Kanker Payudara Sembuh Tanpa Operasi

Kanker Payudara Sembuh Tanpa Operasi – Wisatawan pengantin yang mengenakan pakaian Inggris berwarna ungu yang dikenal dengan Tuti saat bertemu di Tecojo, Desa Kijang Kota, Kecamatan Bintan Tiur, Bintan, Selasa (4-2-2020). Tutti menderita kanker stadium awal. ANTARA/OGEN

Bintan (Antara) – Suasana tenang di Perunas Tecojo, Kelurahan Kijang Kota, Kecamatan Bintan Tiur, Bintan siang tadi, Selasa (4/2).

Kanker Payudara Sembuh Tanpa Operasi

Kondisi suhu yang sangat panas membuat warga enggan beraktivitas di luar ruangan. Beberapa dari mereka lebih memilih duduk nyaman di teras depan rumah asing.

Pasien Kanker Payudara Cenderung Lambat Periksakan Diri

Hari itu, Antara menyambangi seorang warga (perempuan) yang tinggal di Perunas. Tepatnya di Blok I Noor 19.

Wanita yang dimaksud adalah Turizan Vahuni atau biasa disapa Tuti, usianya 50 tahun. Saat kami bertemu dengannya, dia mengenakan ukana ungu. Mungkin Anda sudah siap untuk shalat Zuhur.

Tuti Asih menikah dan mempunyai seorang anak. Wanita paruh baya ini tercatat sebagai pegawai pabrik garmen di Pulau Bintan.

Baca Juga: Jumlah Penderita Kanker Payudara Capai 856 Pasien Baca Juga: Pupuk Indonesia Galang Dana untuk Anak Penderita Kanker

Jual Obat Herbal Kanker Payudara Harga Terbaik & Termurah Februari 2024

Namun, pada tahun 2014, ia terpaksa berhenti karena didiagnosis menderita kanker. Penyakit dan risiko paling berbahaya di Indonesia.

Pada tahun 2013, Tuti mengetahui ada benjolan di tubuhnya, tepatnya di payudaranya. Namun menurutnya, itu hanyalah bola biasa.

Rekan kerja dan keluarganya menyarankan Tuti menjalani pengobatan alternatif. dan operasi magis dan hal-hal lainnya. Tutti pun tertarik mencoba.

Tak hanya di Pulau Bintan (Tanjungpinang-Bintan), pengobatan tradisional juga ia coba di Pulau Jawa. Saya harap saya bisa sembuh tanpa perlu operasi di rumah sakit.

Apa Itu Lumpektomi?

Kemudian Tuti mencoba beralih ke perawatan di rumah sakit. Kemudian berobat ke RS Wa Ahad Tabib Tanjungpinang (yang merupakan bagian dari Peprov Kepri).

Tampaknya belum ada dokter yang mempelajari atau mengobati penyakit serupa. Akhirnya, ia memilih perawatan sederhana di rumah.

Di saat yang sama, kondisi tubuhnya semakin memprihatinkan, berat badannya turun dari 97 kg menjadi 47 kg atau 50 kg.

Kemudian Tuti merasa sudah tidak sanggup lagi menahan sakitnya, ia dirujuk ke RS Dharais, Jakarta. Itu terjadi pada tahun 2014.

Bantu Ci Nieke Sembuh Dari Kanker Payudara

Di sana, biopsi atau jaringan tubuh diambil untuk pengujian laboratorium. Alhasil, Tuti divonis mengidap kanker payudara stadium dua.

“Aku pertama kali dengar tentang kanker. Aku berpikir, hei, jangan pernah lupa. Besok pasti liver. Aku menangis di rumah, apalagi melihat bayi dan suamiku. Kalau liverku sakit, aku langsung takut. .Sebab aku seperti berada di dalam kubur, gelap dan suram, kata Tutti.

Baca juga: Kapolda Tawarkan Pengobatan Gratis Bagi Penderita Kanker di Pengungsi Baca juga: Penderita Kanker Payudara Krisnaningsih Terbantu JKN-KIS

Menurut Tuti, seseorang yang mengidap penyakit kanker sebaiknya menjalani pengobatan rutin selama 5 tahun atau 30 tahun baru bisa dikatakan demikian.

Selain Marshanda, 5 Artis Ini Juga Berjuang Lawan Tumor Hingga Kanker Payudara

Namun Tuti tidak melakukannya, alasannya logis, akomodasi penerbangan dari Tanjungpinang Jakarta terlalu mahal. Ia tidak kunjung sembuh hingga akhirnya memutuskan untuk menghentikan pengobatannya.

Namun di luar dugaan, pada tahun 2016, tubuhnya positif mengidap kanker, dan ia harus dirawat di rumah sakit yang sama lagi sebanyak sembilan kali.

Kali ini dokter mengatakan Tuti mengalami pembusukan pada punggungnya. Dia segera didiagnosis menderita kanker stadium awal.

“Saya operasi lagi karena sistem saya rusak. Lalu saya operasi lagi, dengan penyinaran 35 kali karena saya pasien kambuh,” ujarnya.

Bolehkah Pasien Kanker Payudara Berobat Ke Alternatif?

Setelah radiasi, lanjutnya, dievaluasi 3 bulan kemudian. Setelah evaluasi selesai, terungkap kanker yang diderita Tuti telah menyebar hingga ke usus besar.

“Tahun 2018 saya operasi usus besar. Sebenarnya sel kankernya kecil. Namun usus besar saya dipotong dengan jarak 12 derajat dan dijadikan soket,” ujarnya.

Setelah itu, Tutti kembali diperiksa dan diperiksa kembali. Hasil pemeriksaan dokter selanjutnya menunjukkan adanya kanker yang tergores pada tulang L4 dan L5.

Pada tahun 2019, pihak rumah sakit menyebut Tuti memiliki sisa hidup minimal 2 tahun lagi akibat penyakit kanker yang telah menggerogoti tubuhnya sejak tahun 2013.

Keterlambatan Memeriksakan Diri Ke Fasilitas Kesehatan, Permasalahan Besar Kanker Payudara Di Yogyakarta

Mendengar kabar itu psikologi Tuti pun terguncang. Namun, ia enggan bersedih, apalagi menyesali keadaan yang menimpanya.

Ia sebenarnya berpikir bahwa dokter hanyalah orang biasa, sedangkan kematian ini akan ditangani oleh semua makhluk hidup, tidak hanya penderita kanker.

“Saya tidak memikirkan kapan saya berpikir. Namun, yang bisa saya lakukan sebelum meninggal, saya ingin melakukan banyak hal positif sehingga setiap memikirkannya saya harus siap,” ujarnya.

“Kadang banyak teman yang bilang kaki saya sehat. Malah tidak, saya sakit. Kalau saya buka baju, kaki saya seperti bercak kain di sana-sini,” kata Tuti.

Wanita Ini Operasi Pengangkatan Payudara Meski Tidak Kanker, Ini Alasannya

Misalnya Tuti yang menyembunyikan penyakitnya dengan melakukan berbagai aktivitas. Ibarat mertua, ia selalu menjaga suami dan anak-anaknya dalam pewayangannya.

Hanya saja sebelum memulai aktivitas, ia harus mengonsumsi Orphin (obat pereda nyeri). Kalau tidak, dia tidak bisa bangun.

Bukan berarti kalau tidurnya nyaman harus pakai oksigen karena susah bernapas. Tidurnya tidak boleh asal-asalan, harus tetap tegak sambil bersandar menggunakan bantal, ujarnya.

Tutti bersyukur meski menderita penyakit yang mengancam nyawa. Keluarga terutama pasangan dan anak-anaknya sangat pengertian, perhatian dan termotivasi untuk aktif sebagai makna hidup mereka.

Operasi Kanker Payudara Stadium 3, Pedangdut Aida Saskia Butuh Donor Darah

“Suai tidak bisa menafkahi saya terus-menerus, dia bekerja di bengkel untuk memenuhi kebutuhan saya sehari-hari. Sedangkan anak-anak saya sekarang sudah memasuki tahun terakhir kuliah, jadi masih bisa bekerja,” ulangnya.

Rata-rata pasien kanker, menurutnya, mengeluarkan banyak uang untuk berobat. Apalagi pasien seperti dia lebih memilih berobat di jalan UU dan bukan BPJS Kesehatan.

Hingga saat ini, Tuti Asih rutin menjalani kemoterapi oral dan IV. Namun kini ia tak lagi berada di RS Dharais, Jakarta, melainkan di RS Ebung Fatiah, Bata, Kepri.

“Kio infusnya seminggu sekali, kalau Keo oral tiga minggu sekali. Biaya pengobatannya ditanggung BPJS, kecuali dana transportasi ke Bataya yang agak berat,” imbuhnya.

Cerita Pria Kena Kanker Payudara Stadium 4, Sempat Mengira Lelaki Tak Bisa Kena

Ia dan rekan-rekannya juga berharap rumah sakit di Tanjungpinang dan Bintan memiliki fasilitas kesehatan yang lengkap bagi pasien kanker, sehingga tidak perlu lagi keluar daerah, apalagi ke luar kota atau bahkan ke luar negeri.

Sering bertemu dan berinteraksi dengan pasien kanker lain di rumah sakit. Tuti kemudian terinspirasi untuk membentuk Perkumpulan Penyintas Kanker, cikal bakal lahirnya Yayasan Pejuang Kanker (YPK) Tanjungpinang-Bintan.

Saya sampaikan kepada mereka, bagaimana kalau kita bentuk asosiasi. Akhirnya terbentuk tahun 2015, dan presiden saat itu adalah Yuliani, warga Kilometer 11, Tanjungpinang, kata Tuti.

Tak lama setelah Yuliani (penderita kanker otak) meninggal, perkumpulan tersebut berubah menjadi Yayasan Pejuang Kanker.

Idap Kanker Payudara, Bantu Bu Yuli Bisa Sembuh

“Ada penderita kanker seperti guru dan pegawai pemerintah di ASN. Tapi mereka agak kurang terbuka tentang dirinya karena alasan tertentu,” ujarnya.

Baca juga: Anak penderita kanker juga membutuhkan nutrisi seimbang. Baca juga: Gubernur Babel Hadapi Situasi Kesehatan untuk Strategi Tangani Penderita Kanker Baca Juga: Anak Penderita Kanker Vulva di Gorontalo Butuh Bantuan

“Kemudian Sena sehat bersama. Bahkan salah satu pasien kanker serviks menjadi instruktur Sena, setiap hari Minggu masih aktif mengajar Sena,” ujarnya.

Tutti mengajak seluruh pasien kanker untuk saling bergandengan tangan dan saling memberi semangat. Mengeluh tentang keadaan akan memperburuk keadaan.

Bukan Tak Pakai Bra, Ahli Kanker Beberkan Cara Tepat Cegah Kanker Payudara

Ia kemudian mengimbau masyarakat untuk melibatkan pasien kanker dalam kegiatan apa pun. Pasalnya, penderita kanker hanyalah anak-anak. Namun secara fisik kuat, banyak orang yang percaya bahwa air rebusan daun sirsak dapat membantu mengobati kanker payudara, tanpa mengetahui efektivitas dan efek sampingnya. Ini adalah fakta medis.

Obat alami atau herbal banyak diandalkan untuk mengatasi berbagai penyakit. Mulai dari penyakit berat dan penyakit termasuk kanker. Air rebusan daun sirsak konon bisa membantu penderita kanker payudara. Apa faktanya?

Telah banyak penelitian mengenai kandungan sirsak dan manfaatnya bagi kesehatan. Salah satunya dalam hal mengatasi penyakit kanker. Tak hanya buahnya saja, daunnya juga diyakini memiliki kandungan yang sama, sehingga banyak penderita kanker payudara yang rutin meminum air rebusan daun sirsak.

Faktanya, sirsak memiliki kandungan antioksidan yang tinggi sehingga membantu menghilangkan radikal bebas yang merusak sel-sel tubuh. Selain itu sirsak juga digunakan untuk melawan infeksi, mengurangi peradangan dan mengobati kanker.

Operasi Tumor: Prosedur Hingga Dampak Setelahnya

Di Indonesia, daun sirsak direbus, lalu disiram. Menurut penelitian, air sirsak bermanfaat dalam mengobati berbagai jenis kanker seperti kanker payudara, kanker hati, dan kanker prostat.

Penelitian laboratorium menunjukkan bahwa ekstrak air sirsak dapat membunuh beberapa sel kanker payudara yang resisten terhadap pengobatan kemoterapi.

Sebuah studi tahun 2016 menemukan hasil serupa pada kanker payudara. Hal ini membuat daun sirsak menjadi kandidat yang menjanjikan untuk terapi kanker payudara.

Agar benar-benar terbukti sebagai pengobatan kanker, harus ada uji klinis pada manusia. Nah, sejauh ini belum ada satu pun penelitian yang bisa mendukung klaim manfaat daun sirsak dalam mengobati penyakit kanker. Hal ini dikarenakan belum adanya bukti yang menunjukkan efektivitas dan keamanan konsumsi air daun sirsak.

Seleb Ini Berhasil Sembuh Dari Kanker Yang Menggerogotinya, Ada Yang Divonis Usia Tinggal 4 Bulan

Meski bisa dijadikan sebagai obat alternatif yang mudah ditemukan, mudah dibuat, dan terjangkau, namun air daun sirsak tidak boleh diminum sembarangan. Apalagi jika menjalani kemoterapi tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter.

Pertama-tama, Anda perlu mengetahui efek konsumsi air daun sirsak yang diduga berinteraksi dengan obat kemoterapi. Ada kekhawatiran bahwa hal ini dapat mengurangi efektivitas kemoterapi itu sendiri.

Para peneliti juga mengatakan jika air daun sirsak dikonsumsi secara berlebihan, maka senyawa alami yang ada pada daun sirsak dapat memberikan efek buruk pada tubuh, terutama saraf.

Beberapa zat dalam sirsak dapat masuk ke dalam darah otak dan menyebabkan kerusakan saraf. Mungkin inilah salah satu faktor mengapa belum ada yang melakukan uji klinis terhadap manfaat daun sirsak bagi manusia.

Kenali Kanker Payudara

Selain itu, ada beberapa kondisi yang tidak dianjurkan konsumsi ekstrak daun sirsak karena dapat meningkatkan efek negatifnya, yaitu:

Jadi berdasarkan penjelasan di atas, klaim bahwa kanker payudara bisa disembuhkan dengan daun sirsak sebenarnya belum terbukti, begitu pula dengan jenis kanker lainnya. Belum

Kanker payudara bisa sembuh, kanker payudara sembuh, pengobatan kanker payudara tanpa operasi, sembuh dari kanker payudara, apakah kanker payudara bisa sembuh tanpa operasi, pengalaman sembuh dari kanker payudara tanpa operasi, bisakah kanker payudara sembuh, obat kanker payudara tanpa operasi, biaya operasi kanker payudara, sembuh dari kanker payudara tanpa operasi, proses operasi kanker payudara, setelah operasi kanker payudara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *